KOMUNITAS PASKIBRAKA KABUPATEN BULUKUMBA

KOMUNITAS PASKIBRAKA KABUPATEN BULUKUMBA

 

Salam paskibra………

Siapa kita….??? P-A-S…K-I-B….R-A-K-A  (Paskibraka)

               Kalimat diatas mungkin tidak asing lagi ditelinga kamu yang pernah mengikuti proses seleksi dan karantina paskibraka ditingkat kecamatan, kabupaten, provinsi atau mungkin skala nasional. Menjadi seorang Paskibraka memang merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka yang pernah mengikutinya, rasa nasionalisme kamu tiba-tiba akan tergugah. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dalam proses menjadi seorang pengibar bendera pusaka. Pengalaman, teman baru, dan segudang hal yang membuat kamu tidak akan pernah bisa melupakan hal-hal yang telah kamu lewati pada masa karantina.

               Saya mengikuti Paskibraka tingkat kecamatan Bulukumpa 2 kali berturut-turut pada tahun 2004-2005 dan pada tahun 2006 saya masuk paskibraka tingkat kabupaten Bulukumba, saya sempat menjadi cadangan pada tahap seleksi perwakilan kota makassar,,, he he he.. (cadangan) kata instrukturnya dulu “dek kamu siap-siap yah siapa tau ada yang sakit kamu tinggal tunggu panggilan” …he he he,,,,bullshit…

                Sekedar sharing asal mula yang telah saya dapat dari blog salah satu anggota PPI (PURNA PASKIB INDONESIA)

               Pada awalnya  pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) terbentuk secara tidak disengaja. Beberapa hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, Presiden Soekarno memberi tugas kepada salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar, untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Mutahar, yang dikenal punya rasa kebangsaan sangat kental (ditandai dengan lagu-lagu ciptaannya seperti Hari Merdeka dan Syukur), segera memenuhi permintaan Bung Karno. Acara pun disusun satu persatu, mulai dari pembacaan naskah Proklamasi. Namun, tiba-tiba Mutahar teringat akan sesuatu. Menurut dia, rasa cinta Tanah Air, persatuan dan kesatuan bangsa wajib dilestarikan kepada generasi penerus. “Tapi, simbol-simbol apa yang bisa digunakan?”

Melalui materi yang akan dipakai pada upacara itu, Mutahar memilih pengibaran bendera (pusaka). Dalam benaknya, pengibaran lambang negara itu memang sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia (seperti juga pada tahun 1945).

 

             Dari pengalaman pertama tahun 1946 itu, Mutahar menganggap apa yang dilakukannya sudah tepat. Bung Karno pun tidak memprotes keputusan yang diambil Mutahar untuk menyerahkan tugas pengibaran bendera pusaka kepada para pemuda. Berturut-turut, pada tahun 1947 dan 1948, pengibaran bendera oleh lima pemuda asal berbagai daerah itu terus dilestarikan.

              Pada akhir tahun 1948 Bung Karno serta beberapa Pemimpin sempat ditangkap Belanda dan diasingkan ke Parapat (Sumatera Utara), lalu dipindahkan ke Muntok (Bangka). Saat itu, bendera pusaka sempat diselamatkan oleh Husein Mutahar dari sitaan Belanda, bahkan dikirimkan ke Bangka dengan cara yang rumit dan sulit.

              Tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

              Seusai penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan lndonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag (Konferensi Meja Bundar), Ibukota Republik Indonesia dikembalikan ke Jakarta. Pada 17 Agustus 1950, pengiabran bendera pusaka dilaksanakan di halaman Istana Merdeka Jakarta. Husein Mutahar tidak lagi terlibat, karena regu-regu pengibar bendera pusaka diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan RI. Pada kurun waktu tersebut, pada pengibar kebanyakan diambil dari unsur pelajar atau mahasiswa yang ada di Jakarta.

                Meski hanya empat kali (1946-1949), pengibaran bendera pusaka di yogya oleh lima pemuda mewakili daerah yang digagas Husein Mutahar telah menjadi tonggak untuk menopang kelahiran Paskibraka. Dan, cita-cita Mutahar mengumpulkan pemuda dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka itu, kelak terwujud juga tahun 1968…

 

 

Selamat Datang, Jangan Lupa Komentar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s