Teaching by Principles (Pendekatan pengajaran bahasa inggris)

Saya halalkan materi ini untuk di copy dan digunakan jika anda memberikan komentar  KLIK JANGAN LUPA KLIK LIKE DISINI

        Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dan memiliki peran sentral, khususnya dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional seseorang dan dalam mempelajari semua bidang studi. Bahasa diharapkan bisa membantu seseorang dalam hal ini yang saya bicarakan adalah peserta didik untuk mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain.
Tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis. Hal ini relevan bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu reading skill (membaca), berbicara (speaking), menulis (writing), dan mendengarkan (listening).
Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa dan metode-metode yang diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya.

Dalam paper yang penulis buat ini maka disajikan beberapa prinsip dasar dan metode yang ada untuk mempermudah proses pembelajaran dalam kelas semoga paper yang saya buat dapat bermanfaat untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa inggris bagi calon guru dan siswa.

INTRODUCTION

      Dalam proses belajar mengajar ada banyak masalah yang dihadapi oleh para pengajar dan pelajar itu sendiri diantaranya adalah bagaimana menciptakan proses belajar yang menyenangkan tanpa mengesampingkan tujuan utama pembelajaran agar tetap tercapai. Seorang siswa yang belajar tanpa memiliki minat dan kemauan dalam dirinya akan mempersulit proses transfer pengetahuan dan dapat berimbas pada kegagalan pengajaran karena tujuan tidak tercapai. Dengan menciptakan kondisi yang menyenangkan maka akan menstimulan motivasi dalam diri pelajar dan memandang belajar bahasa inggris bukan sebagai sebuah kewajiban namun merupakan sebuah kebutuhan yang melewati sebuah proses yang menyenangkan.
Sebagai calon guru bahasa inggris di masa depan nantinya kita dituntut untuk selalu membuat keputusan didalam kelas. Banyak hal yang harus diketahui oleh seorang guru dalam memanage kelas bukan hanya sekedar penguasaan mata pelajaran namun bagaimana menyajikan mata pelajaran itu sehingga menarik dan memotivasi para siswa agar mata pelajaran bahasa asing tidak terasa membosankan didalam kelas. Sebagaimana diketahui bahwa untuk membuat seorang siswa menjadi pelajar yang baik dan efektif adalah dengan cara menumbuhkan motivasai dalam diri seorang siswa agar proses belajar mengajar bukan hanya sebagai proses transfer ilmu pengetahuan namun proses itu bisa dinikmati dan terasa menyenangkan bagi siswa.
Sebelum seorang guru bahasa mengajar dalam kelas maka ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam diri seorang guru. Apa tujuan dari pembelajaran bahasa? metode apa yang ingin digunakan dalam mengajarkan bahasa sehingga efektif dalam mencapai tujuan? Ukuran apa yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran? (Stevick 1982;Larsen-freeman 1983a, 1983b). Hal ini berarti bahwa seorang guru yang baik harus mempersiapkan segala hal mengenai pembelajaran sebelum memasuki kelas sehingga proses belajar akan lebih bermakna karena mempunyai perencanaan yang baik.
Tujuan utama dari paper ini adalah memberikan informasi khususnya kepada para calon guru bahasa inggris tentang metode-metode dalam pembelajaran bahasa inggris. Dengan membaca paper ini semoga para calon guru mendapatkan dan memahami prinsip-prinsip dalam pembelajaran bahasa inggris sehingga pembelajaran bahasa akan lebih efektif dalam kelas. Selain daripada itu seorang guru akan lebih percaya diri dalam proses belajar mengajar karena telah mengetahui prinsip dasar dalam pembelajaran dan membuat siswanya merasa senang belajar bahasa inggris yang tentunya berimplikasi pada kepuasan diri yang dicapai seorang guru.
Dalam paper ini ada 9 metode dan prinsip pengajaran yang telah penulis dapatkan dari intisari beberapa buku dan artikel yang telah dibaca sebelumnya dan penulis rangkum dalam 1 paper sehingga bisa menjadi referensi baru bagi para pembaca, adapun 9 metode pembelajaran bahasa inggris yang ingin dijelaskan dalam paper ini adalah :
1. The Natural Approach
2. The Audiolingual Method
3. The Total Phisycal Response
4. Community Language Learning
5. Communicative Language Learning
6. Suggestopedia
7. The Grammar Translation Method
8. The Direct Method
9. The Silent Way
Metode dan pembelajaran yang ada diatas diurut bukan berdasarkan yang paling baik karena semua methode yang ada cocok dan baik tergantung kondisi dan keadaan peserta didik yang ada dalam kelas oleh karena itu seorang calon guru harus mengetahui kondisi dan keadaan kelas terlebih dahulu sebelum menerapkan metode yang dirasa cocok di terapkan dalam pembelajaran dalam kelas.
Semoga paper yang telah saya buat dengan merangkum methode dan prinsip pengajaran bahasa inggris bukan hanya menyelesaikan tugas yang diberikan sebagai tugas TEFL 1 (Teaching English as Foreign Language) namun bisa bermanfaat bagi para calon guru dan guru yang membacanya sehingga menjadi sebuah karya yang bermanfaat bagi dunia pendidkan Amin.

“Sampaikanlah ilmu yang engkau ketahui kepada orang yang belum mengetahuinya meskipun hanya sedikit, maka niscaya tuhan akan merahmatimu dengan ilmu yang belum engkau ketahui dan belum engkau pahami”

Chapter 2
Pemaparan konsep

A. NATURAL APPROACH

Natural approach adalah salah satu metode pengajaran yang dikemukakan oleh seorang linguist yang bernama Stephan Krashen yang berasal dari University of Southern California.
(Nunan, 1989) dalam bukunya Teaching by principles “The essence of language is meaning. Vocabulary, not grammar, is the heart of language”. Dari pendapat Nunan tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa konsep dasar teori Natural Approach dalam pengajaran bahasa inggris tidak perlu terlalu menekankan pada aspek tata bahasa yang luas namun pengajaran bahasa seharusnya memberikan interaksi yang berarti antar para pengguna bahasa, dalam hal ini tujuan utama bahasa adalah menyampaikan informasi kepada pengguna bahasa lainnya agar terjadi interaksi yang dapat dimengerti antar pengguna bahasa. (Brown, 2000) “Acquisition requires meaningful interaction in the target language natural communication in which speakers are concerned not with the form of their utterances but with the messages they are conveying and understanding.

Ada beberapa tujuan jangka panjang dalam pembelajaran bahasa menurut Brown dalam beberapa hal bahasa dipelajari untuk komunikasi lisan dan dilain hal dipelajari sebagai komunikasi tulisan yang tentunya berbasis pada tujuan akademik seperti mendengarkan dosen, berbicara dalam kelas atau menulis dalam laporan penelitian. Tujuan utama dalam natural approach Untuk membangun dasar keahlian komunikasi sebgai bahasa sehari-hari seperti percakapan sehari-hari, berbelanja, mendengarkan radio dan sebagainya.
(Anonim, 2012) Dalam pembelajaran bahasa asing ada 2 hipotesa dasar (Acquisition-Learning Hypothesis) dalam sistem pembelajaran bahasa asing yaitu :
1. Bahasa sebagai sistem yang diperoleh, dan
2. Bahasa sebagai sistem yang dipelajari
Pengajaran bahasa dikatakan sebagai sebuah proses yang diperoleh karena mempunyai ciri bahwa bahasa aktif dalam otak bawah sadar (Subconcious) dan intuitif hal ini dapat diamati pada anak kecil yang dapat memahami dan mengetahui bahasa ibu yang menjadi bahasa asing bagi kita. Hal tersebut dapat mereka alami tanpa proses belajar secara sengaja namun dari proses mengamati interaksi orang-orang yang ada disekitarnya dan hal tersebut dapat mereka ketahui tanpa pengetahuan theoretical.
Yang kedua adalah hipotesis yang mengatakan bahwa bahasa sebagai sebuah proses pembelajaran yang akan mustahil dikuasai tanpa mempelajari dan mengetahui aturan-aturan dalam tata bahasa, dalam hal ini bahasa sebagai skill yang harus dipelajari dalam otak sadar.
Dalam ruang lingkup pendekatan Natural Approach maka dapat digolongkan kedalam hipotesa yang pertama yang mana pengasaan bahasa mengalami sebuah proses yang alami untuk dikuasai sebagai sebuah skill.
(Nunan, 1989) Teacher roles in the class as primary source of comprehensible input. Must create positive low-anxiety climate. Must choose and orchestrate a rich mixture of classroom activities. Dalam pendekatan natural approach ini Nunan mengungkapkan bahwa peranan guru dalam pendekatan ini adalah sebagai sumber utama yang memberikan masukan, menciptakan suasana kelas yang tidak gugup atau kaku oleh karena itu seorang guru yang kreatif harus memilih dan menyusun aktivitas kelas yang membuat nyaman para siswa untuk berinteraksi, sebagaimana ia berinteraksi secara alami dalam lingkungan pergaulannya sehari-hari.
Sebagai contoh aktivitas pendekatan natural approach dalam pengajaran. Brown (1999) dalam metode pendekatan natural approach sebagai berikut :
1. Memperkenalkan diri dan orang lain.
2. Menukar informasi pribadi
3. Mengajarkan dalam mengeja nama orang lain.
4. Memberikan perintah
5. Meminta maaf dan berterima kasih
6. Mengenali dan menggambarkan orang
7. Menanyakan sebuah informasi.

Hal unik yang dapat ditemukan dalam pengajaran ini adalah berlatih dengan teman sekelas, kelompok kerja interaktif, bermain peran, melatih tatabahasa dan pronounciation, tehnik Gap-Information, aktivitas internet dan latihan interaktif ekstra dalam kelas.

B. THE AUDIO – LINGUAL METHOD
Istilah audio-lingualisme pertama-tama dikemukakan oleh Prof. Nelson Brooks pada tahun 1964.Metode ini menyatakan diri sebagai metode yang paling efektif dan efisien dalam pembelajaran bahasa asing dan mengklaim sebagai metode yang telah mengubah pengajaran bahasa dari hanya sebuah kiat ke sebuah ilmu. Audio-Lingual Method (ALM) merupakan hasil kombinasi pandangan dan prinsip-prinsip Linguistik Struktural, Analisis Kontrastif, pendekatan Aural-Oral, dan psikologi Behavioristik.

Audio-lingual method adalah metode pengajaran bahasa inggris yang berdasar pada teori Behavioristik yang berpandangan bahwa mempelajari bahasa merupakan hal yang harus dibiasakan sehingga akan menjadi sebuah skill, dalam hal ini kebiasaan kesalahan penggunaan tata bahasa dan pronounciation harus dihindari sebisa mungkin, karena dikhawatirkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan akan menjadi sebuah kebiasaan jelek dan akan dilakukan terus menerus oleh pengguna bahasa sebagaimana yang dikatakan (Nunan, 1989) language is a system of rule-governed structures hierarchically arranged.
Dasar pemikiran audio lingual method mengenai bahasa, pengajaran, dan pembelajaran bahasa adalah sebagai berikut:
1. Bahasa adalah lisan, bukan tulisan
2. Bahasa adalah seperangkat kebiasaan
3. Ajarkan bahasa dan bukan tentang bahasa
4. Bahasa adalah seperti yang diucapkan oleh penutur asli
5. Bahasa satu dengan yang lainnya itu berbeda
Richards & Rodgers (1986;51 dalam Prayogo, 1998:9) menambahkan beberapa prinsip pembelajaran yang telah menjadi dasar psikologi audio-lingualisme dan penerapannya sebagai berikut:
1. Pembelajaran bahasa asing pada dasarnya adalah suatu proses pembentukan kebiasaan yang mekanistik
2. Ketrampilan berbahasa dipelajari lebih efektif jika aspek-aspek yang harus dipelajari pada bahasa sasaran disajikan dalam bentuk lisan sebelumdilihat dalam bentuk tulis.
3. Bentuk-bentuk analogi memberikan dasar yang lebih baik bagi pembelajar bahasa daripada bentuk analisis, generalisasi, dan pembedaan-pembedaan lebih baik daripada penjelasan tentang kaidah-kaidah.
4. Makna kata-kata yang dimiliki oleh penutur asli dapat dipelajari hanya dalam konteks bahasa dan kebudayaan dan tidak berdiri sendiri.

Richards & Rogers juga berpendapat bahwa ketrampilan bahasa diajarkan dengan urutan: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Bentuk kegiatan pengajaran dan pembelajaran audio lingual method pada dasarnya adalah percakapan dan latihan-latihan (drills) dan latihan pola (pattern practice). Percakapan berfungsi sebagai alat untuk meletakkan struktur-struktur kunci pada konteksnya dan sekaligus memberikan ilustrasi situasi dimana struktur-struktur tersebut digunakan oleh penutur asli, jadi juga sebagai penerapan aspek kultural bahasa sasaran. Pengulangan dan penghafalan menjadi kegiatan yang dominan pada metode ini. Pola-pola gramatika tertentu pada percakapan dipilih untuk dijadikan kegiatan latihan pola. Kegiatan-kegiatan pembelajaran berdasarkan audio lingual method adalah: repetition, inflection, relplacement, restatement, completion, transposition, expansion, contraction, transformation, integration, rejoinders, dan restoration.
Teori Audio-Lingual Method berbeda dengan natural approach yang dijelaskan sebelumnya, teori natural approach dalam methode tersebut tidak terlalu mempersoalkan kesalahan tata bahasa dan pronounciation karena dalam Natural Approach tujuan bahasa akan tercapai jika orang yang melakukan interaksi dan menggunakan bahasa masing-masing memahami apa yang diungkapkan oleh teman berbicara mereka sedangkan dalam Audio-Lingual Methode, Grammar dan Pronounciation sangat penting dalam proses pembentukan skill seorang pembelajar bahasa.
Tujuan dari pengajar yang menggunakan Audio-Lingual Method adalah agar siswa dapat menggunakan bahasa secara komunikatif dan agar siswa otomatis menggunakan bahasa tanpa berpikir lagi karena telah menjadi kebiasaan. Dalam pendekatan ini peran seorang guru seperti seorang pemimpin Orchestra yang memerintah dan mengontrol kebiasaan bahasa para siswanya, guru juga bertanggungjawab dalam memberikan contoh dan model yang baik bagi para siswanya. Para siswa mempunyai peranan untuk menjadi imitator dari guru yang memberikan model yang baik, mengikuti petunjuk guru dan merespon seakurat dan secepat mungkin apa yang ditunjukkan oleh guru
Dalam metode ini kosa kata dan bentuk baru dihadirkan dalam dialog. Dialog yang dipelajari melalui peniruan dan pengulangan dari apa yang diucapkan oleh seorang guru dalam hal ini tata bahasa yang diajarkan secara eksplisit dari dialog-dialog yang ada. Ketika pengajaran ini berlangsung maka ada interaksi antara guru-siswa dan antara siswa-siswa yang diinisiasi oleh seorang guru dalam kelas.
Karakteristik Audiolingual Method (diadaptasikan dari Prator & Celce- Murcia, 1979):
1. Materi baru dihadirkan dalam bentuk dialog
2. Ada ketergantungan pada mimikri dan memorisasi frase.
3. Susunan dirangkai dalam analisis kontrastif dan diajarkan dalam waktyu yang sama.
4. Pola bentuk diajarkan dalam ,latihan pengulangan.
5. Cuma sedikit atau bahkan tidak ada penjelasan tentang grammar karena grammar diajarkan secara induktif.
6. Vocabulary sangat terbatas dan dipelajari dalam konteks tertentu.
7. Banyak menggunakan alat perekam, laboratorium bahasa dan alat peraga.
8. Sangat mementingkan pronounciation yang benar.
9. Sangat sedikit menggunakan bahasa ibu namun pengecualian bagi guru.
10. Respon yang sukses akan terus diperkuat.
Teknik-teknik pengajaran dalam Audio-Lingual Method:
1. Dialog Memorization 7. Transformation Drill
2. Backward Build-up (expansion) Drill 8. Question-and-Answer Drill
3. Repetition Drill 9. Use of Minimal Pairs
4. Chain Drill 10.Complete the Dialog
5. Single-slot Substitution Drill 11.Grammar Game
6. Multiple-slot Substitution Drill

Jadi dapat disimpulkan bahwa penguasaan bahasa dalam pendekatan ini adalah sebuah proses kebiasaan yang memberikan perhatian terhadap bagaimana menciptakan kebiasaan bahasa yang baik dan merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik yang menyenangkan dalam hal mengimplementasikan bahasa yang dipelajari.

C. TOTAL PHYSICAL RESPONSE
Total physical response adalah metode pendekatan pengajaran bahasa yang diperkenalkan oleh James Asher (1977) yang sebenarnya telah diimplementasikan ditahun 1960. Dalam metode total physical response biasa juga disebut dengan “ the comprehension approach” karena dalam pendekatan ini banyak mengimplementasikan listening comprehension atau kemampuan dalam mendengarkan. Ide pendekatan ini muncul dari pengamatan tentang bagaimana seorang bayi dapat menguasai bahasa ibu. Seorang bayi mendengarkan berbulan-bulan untuk mendengarkan suara orang-orang yang ada disekitarnya sebelum ia dapat mengucapkan sebuah kata. Tidak ada yang memerintahkan seorang anak untuk berbicara namun mereka akan bicara ketika mereka sudah siap.
Pada Total Physical Response (TPR), siswa mendengarkan dan merespon instruksi lisan guru. Bentuk instruksi yang diberikan seperti ‘Turn around’, ‘Sit down’, ‘Walk’, ‘Stop’, ‘Jump’, dsb.

Tujuan dari penggunaan metode pengajaran ini adalah bagaimana membuat para siswa menikmati pengalaman mereka berkomunikasi dalam bahasa asing, kenyataannya pendekatan ini dikembangkan untuk mengurangi perasaan strees ketika mempelajari bahasa asing.
Dalam metode ini sangat ditekankan struktur tata bahasa dan kosa kata dibanding aspek bahasa lainnya dan guru dapat mngukur tingkat pemahaman seorang murid dengan melihat aksi yang dilakukan oleh para murid dengan instruksi yang telah guru berikan dalam bahasa asing, kemudian dalam metodeini diharapkan agar siswa yang ada melakukan beberapa kesalahan ketika mereka pertama kali memulai untuk berbicara, guru yang mendapati kesalahan tersebut maka harus toleran dan hanya mengoreksi kesalahan yang besar saja.
Teknik-teknik dalam the Total Physical Response Method:
1. Using Commands to Direct Method
2. Role Reversal
3. Action sequence

D. COMMUNITY LANGUAGE LEARNING
Community language learning adalah metode pengajaran yang dikembangkan oleh Charles A.Currant yang merupakan seorang spesialis konseling dan professor di Fakultas Psychology Universitas Loyola, Chicago. Pendekatan ini biasa juga disebut dengan metode konseling karena dalam aplikasi teori ini penggunaan tekhnik konseling dalam pengajaran bahasa sangat dikedepankan. Metode ini memberikan tekanan pada peran ranah afektif dalam pembelajaran kognitif. . Sebagai individu, pembelajar perlu mendapat perhatian dan bimbingan agar dapat mengisi nilai-nilai dan mencapai tujuan.
Metode ini mempercayai prinsip ‘whole persons’ yang artinya guru tidak hanya memperhatikan perasaan dan kepandaian siswa tapi juga hubungan dengan sesama siswa. Menurut Curran (1986:89) siswa merasa tidak nyaman pada situasi yang baru. Dengan memahami perasaan ketakutan dan sensitif siswa guru dapat menghilangkan perasaan negatif siswa menjadi energi positif untuk belajar. Selain itu seorang siswa kadang takut terihat bodoh didepan kelas sehingga mereka cendrung bersikap pasif dalam aktivitas kelas dalam masalah ini seorang guru memposisikan dirinya sebagai seorang konselor yang akan memahami perasaan dan permasalahan yang dihadapi oleh siswanya. Keberadaan seorang guru tidak dilihat sebagai sebuah ancaman dan memperlihatkan kesalahan dan keterbatasan siswa melainkan kehadiran guru tersebut menjadi seorang konselor yang memusatkan perhatiannya kepada siswa dan kebutuhannya.
Dalam pendekatan ini seorang guru harus melihat siswanya sebagai sebuah kelompok yang membutuhkan terapi dan konseling yang mana dinamika sosial dalam kelompok ini sangat penting. Ketika seorang siswa merasa nyaman dan akrab dengan guru dan teman-teman yang ada dalam kelompoknya maka ia dapat mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya, selain itu maka affective filter yang ada dalam dirinya yang membuatnya merasa gugup dan tak berani untuk berbicara akan mulai berkurang karena telah merasakan kedekatan dengan lingkungan kelompoknya.

Menurut Dra.Nuny Sulistiany Idris, M.Pd (2012)Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran:
A. Ketenangan atau keamanan (security)
B. Agresi/terlibat secara aktif (aggression)
C. Perhatian (attention)
D. Refleksi (reflection)
E. Ingatan (retention)
F. Diskriminasi (discrimination)
Dari hal tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa metode ini ingin menciptakan rasa aman dalam lingkungan belajar para siswa sehingga mereka berani untuk terlibat secara aktif dalam kelas, seorang guru harus memberikan perhatian terhadap siswanya.
Teknik-teknik Community Language Learning:

1. Tape-recording Student Conversation 4. Reflective Listening
2. Transcription 5. Human Computer
3. Reflection on Experience 6. Small Group Tasks

E. COMMUNICATIVE LANGUAGE LEARNING
Communicative Language learning berasal dari perubahan pada tradisi pengajaran bahasa di Inggris pada akhir tahun 1960 dan kemunculannya dipertegas ketika Audio Lingual Method tidak menghasilkan penutur-penutur bahasa asing atau bahasa kedua yang baik dan fasih dan tidak mampu menggunakan bahasa yang dipelajari dalam interaksi yang bermakna.

Dalam pendekatan ini bahasa merupakan alat komunikasi yang mana pembelajar tidak hanya harus menguasai aturan-aturan kebahasaan (usage), tetapi juga harus mampu menggunakannya dalam kegiatan komunikasi (use).
Communicative approach bertujuan untuk menjadikan kompetensi komunikatif (communicative competence) sebagai tujuan pengajaran bahasa dan untuk mengembangkan teknik-teknik dan prosedur pengajaran ketrampilan bahasa yang didasarkan atas aspek saling bergantung antara bahasa dan komunikasi. Kompetensi Komunikatif mencakup kompetensi gramatika, sosiolinguistik, dan strategi. Kemampuan komunikatif berbahasa (communicative language ability) meliputi pengetahuan atau kompetensi dan kecakapan dalam penerapan kompetensi tersebut dalam penggunaan bahasa yang komunikatif dan kontekstual.
Kompetensi komunikatif secara umum berpandangan bahwa makna profisiensi dalam sebuah bahasa tidak hanya sekedar mengetahui sistem kaidah-kaidah gramatikal (fonologi, sintaksis, kosakata, dan semantik). Fokus metode ini pada dasarnya adalah elaborasi dan implementasi program dan metodologi yang menunjang kemampuan bahasa fungsional melalui partisipasi pembelajaran dalam kegiatan-kegiatan komunikatif. Kegiatan-kegiatan komunikatif seperti game, role play.
Menurut Morrow (John and Morrow, 1981) kegiatan komunikatif mempunyai tiga ciri yaitu gap informasi, pilihan dan umpan balik. Gap informasi ada ketika terjadi pertukaran informasi santara satu orang yang mengetahui sesuatu dan yang lain belum mengetahuinya, kemudian pilihan dimaksudkan disini adalah bahwa ketika seorang melakukan komunikasi maka ia dihadapkan pada pilihan pada apa yang ingin ia sampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya dan yang terakhir indikasi komunikatifnya suatu komunikasi jika ada feedback atau umpan balik yang diberikan oleh pendengar dari aktivitas yang ia lakukan.

Dalam pendekatan ini penggunaan bahasa dikaitkan dengan konteks sosial dimana para pembelajar berinteraksi secara lisan dan tulisan, pengajar dan pembelajar mengabaikan kesalahan yang dibuat oleh temannya. Kesalahan ditoleransi dan dipandang sebagai akibat perkembangan keterampilan komunikasi. Keberhasilan para pembelajar lebih banyak ditentukan oleh faktor kelancaran (fluency) bukan ketepatan (accuracy).

Dalam buku techniques and principles in language teaching yang ditulis oleh Diane Larsen – Freeman disebutkan beberapa contoh tehnik pengajaran communicative approach
a. Scrambled Sentences
b. Language Games
c. Picture strip story
d. Role play

F. SUGGESTOPEDIA
Metode suggestopedia adalah metode yang dikembangkan oleh Georgi Lozanov (1978) yang merupakan seorang ahli fisika dan psikoterapi di Bulgaria.
George lozanov’s (1979) stated that “contention that the human brain could procces great quantities of material if given the right conditions for learning , among which are a state of relaxation and giving over of control to the teacher”.
Dari pendapat Lozanov tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa teknik relaksasi dan konsentrasi dapat membantu para pembelajar mengelola sumber-sumber bawah sadar mereka dan menyimpan sejumlah kosakata dan aturan kebahasaan yang pernah diajarkan kepada mereka dalam metode ini para pembelajar tidak menggunakan kekuatan mental secara penuh.
Lozanov menggunakan music Baroque dalam metode pengajaran ini untuk membawa ke situasi rileks dan superlearning, menurut lozanov ketika kita menyajikan music maka akan membawa dan meningkatkan gelombang alpha, mengurangi tekanan darah dan denyut jantung. Atmosfer yang sugestif, seperti lampu yang redup, alunan musik yang terdengar sayup-sayup, dekorasi ruangan yang menarik, tempat duduk yang menyenangkan, berperan penting dalam metode sugestopedia. Pengajar harus menyadari bahwa para pembelajar membawa hambatan psikologis ke dalam situasi pembelajaran. Oleh karena itu, ia harus berupaya memberi sugesti agar mereka percaya bahwa mereka bisa berhasil dalam belajar. Kesenian (musik, tari, dan drama) bisa menjadi sugesti yang masuk ke dalam alam bawah sadar. Oleh karena itu, kesenian harus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Pengajar harus membantu para pembelajar bersikap aktif. Untuk itu, dibutuhkan berbagai cara yang variatif. Aktivitas yang dianggap baru dapat membantu proses pemerolehan bahasa dalam hal kesalahan yang dilakukan maka sementara waktu, kesalahan dapat ditoleransi. Akan tetapi, selanjutnya pengajar memberikan contoh pemakaian aturan kebahasaan yang tepat.
George Losanov percaya bahwa dalam proses pembelajaran ada kendala psikologi. Suggestopedia merupakan aplikasi sugesti dalam pedagogi dimana perasaan pembelajar mengalami kegagalan dapat dihilangkan. Dalam model pembelajaran suggestopedia, kendala psikologi pembelajar dapat diatasi..
Dalam mengaplikasikan model pembelajaran ini, ruang kelas ditata sedemikian rupa sehingga berbeda dengan kelas biasa. Siswa duduk di sofa dalam bentuk setengah lingkaran dengan penerangan yang remang – remang. Beberapa poster yang berhubungan dengan materi pembelajaran dipasang di tembok. Guru menyapa dalam bahasa ibu kemudian meyakinkan pembelajar kalau nereka tidak perlu berusaha untuk belajar tapi pembelajaran akan berlangsung secara alami. Guru memutar musik klasik kemudian mengarahkan pebelajar untuk rileks dengan cara menarik nafas panjang. Selanjutnya guru mengajak pembelajar berimajinasi tentang materi yang sedang dipelajari. Ketika mereka membuka mata, mereka bermain peran. Setelah itu, guru membaca sambil memperdengarkan musik. Guru tidak memberi pekerjaan rumah.
Suggestopedia tidak percaya pada penggunaan laboratorium bahasa dan tidak pula percaya pada latihan-latihan struktural yang ketat. Latihan dalam bentuk mekanistik dipandang tidak akan mendatangkan hasil yang baik. Sebaliknya, suggestopedia menekankan pada penyerapan mental dari bahan pembelajaran yang diterima untuk kemudian direnungkan, dicamkan, dan dipakai bersama siswa lain di kelas.
Metode suggestopedia mampu memberikan suasana santai dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar lebih optimal dan menghilangkan hambatan-hambatan dan perasaan tidak mampu dalam diri peserta didik. (Fini. 2008)
Oleh karena itu maka guru harus mampu melihat kondisi peserta didik untuk mengaplikasikan metode ini untuk mencocokkan antara kebutuhan sugesti dan sugesti dan motivasi yang diberikan.
Teknik – teknik dalam Suggestopedia:
1. Classroom Set-up 6. Role-Play
2. Peripheral Learning 7. First Concert
3. Positive Suggestion 8. Second Concert
4. Visualization 9. Primary Activation
5. Choose a New Identity 10.Secondary Activation

G. THE GRAMMAR TRANSLATION METHOD
Menurut beberapa artikel bahwa the grammar-translation method juga dikenal sebagai the classical method dikarenakan metode pembelajaran bahasa Inggris ini dianggap paling pertama kali digunakan di berbagai belahan dunia sehingga tidak terlalu jelas mengenai siapa yang pertama kali mengembangkan metode ini.
Karakteristik grammar-translation method (Brown. 1989) di bawah ini:
1. The unit of teaching is word, not a sentence. It means vocabulary is taught in the form of isolated words. (Unit pengajarannya berupa kata, bukan kalimat. Hal ini berarti kosakata diajarkan dalam bentuk kata-kata asing)
2. It considers grammar as a soul of language. (grammar dianggap sebagai jiwa sebuah bahasa)
3. Grammatical rules of teaching of English are explained into mother tongue. (aturan-aturan grammar dalam pengajaran bahasa Inggris dijelaskan ke dalam bahasa ibu)
4. This method does not help in development of linguistic competence of learner. (metode ini tidak membantu mengembangkan kompetensi linguistik siswa)
5. English grammar is taught through rules, translation, definition and comparative study of mother tongue grammar. (grammar bahasa Inggris diajarkan melalui aturan-aturan, penerjemahan, definisi dan studi perbandingan dengan grammar / tata bahasa ibu)
6. Grammar is taught deductively. (grammar diajarkan secara deduktif)
7. The main function of language learning, communication is ignored. (demi fungsi utama akan pembelajaran bahasa, komunikasi diabaikan)
8. Reading and writing are the major focus. (Fokus utamanya adalah ‘menulis’ dan ‘membaca’.
H. DIRECT METHOD

Metode pengajaran langsung yang sering disebut dengan direct method sebenarnya lahir dari metode Alamiah (natural method) yaitu suatu pembelajaran bahasa yang dialami anak-anak kecil ketika memulai belajar berbahasa.
Sebagaimana diungkapkan oleh Jack c. Richard dan roger (1992)” this method is called natural method because it is used naturalistic principles of language learning”. Metode langsung dirahkan pada keberhasilan dalam bahasa target dengan mengenal kosakata dan kalimat sehari-hari, menggunakan komunikasi lisan dan tata bahaa yang diajarkan secara induktif.
Konsep dari Jack C. Richard (1986:9-10) mengenai pembelajaran bahasa melalui pendekatan langsung antara lain berkenan dengan hal-hal baru yang diperkenalkan secara lisan melalui peragaan, barang-barang nyata, gambar-gambar, sedangkan kata-kata yang bersifat absrak diperkenalkan melalui asosiasi ide. Berbicara dan menyimak diajarkan sekaligus dengan menekankan pada ketaatan ucapan dan tata bahasa.
Berdasarkan pendapat Richard (2008:295) bahwa metode pengajaran langsung dapat dideskripsikan dalam kaitannya dengan fitur sebagai berikut : pertama, tipe hasil belajar yang dihasilkan . Kedua, sintaksis atau aliran kegiatan instruksionalnya secara keseluruhan. Ketiga, lingkungan belajarnya.

Teknik-teknik dalam Direct Method:

1. Reading aloud 5. Question and answer exercise
2. Getting students to self-correct 6. Conversation practice
3. Fill-in-the-blanks 7. Dictation
4. Map drawing 8. Paragraph writing

I. SILENT WAY
Silent Way adalah nama suatu metode pengajaran bahasa yang ditemukan oleh Caleb Gattegno. Hipotesis-hipotesis pembelajaran yang mendasari metode Gattegno ini adalah:
1. Pembelajaran dipermudah jika si pembelajar mendapatkan atau menciptakan hal baru dibandingkan dengan mengingat dan mengulang apa yang harus dipelajari.
2. Pembelajaran dipermudah dengan menggunakan objek fisik.
3. Pembelajaran dipermudah dengan pemecahan masalah yang melibatkan materi yang diajarkan.

Ahli-ahli psikologi kognitif dan bahasa transformasi-generatif beranggapan bahwa belajar bahasa tidak perlu melalui pengulangan. Mereka percaya bahwa pebelajar dapat menciptakan ungkapan-ungkapan yang belum pernah didengar. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa pembelajaran bahasa tidak hanya menirukan tapi aturan-aturan berbahasa dapat membantu mereka menggunakan bahasa yang dipelajari.
Dalam proses pembelajarannya, guru hanya menunjuk ke suatu chart yang berisi dengan vocal konsonan. Guru menunjuk beberapa kali dengan diam. Setelah beberapa saat guru hanya memberi contoh cara pengucapannya. Kemudian menunjuk siswa untuk melafalkan sampai benar. Dalam proses pembelajaran guru banyak berdiam diri, dia hanya mengarahkan/menunjuk pada materi pembelajaran.
Menurut Jerome Bruner, seorang filsuf dan psikolog pendidikan, pengajar dan pembelajar berada dalam posisi yang lebih kooperatif. Pembelajar bukanlah hanya pendengar melainkan juga ikut berperan aktif dalam pembelajaran (Bruner 1966:83). Hal ini sesuai dengan Silent Way yang memandang pembelajaran sebagai suatu aktivitas pencarian hal baru yang kreatif dan aktivitas pemecahan masalah, di mana si pembelajar menjadi pelaku utama. Keuntungan dari cara pembelajaran ini adalah a) meningkatnya potensi intelektual, b) bergesernya pemahaman dari ekstrinsik ke intrinsik, c) pembelajaran melalui penemuan oleh diri sendiri, d) membantu fungsi memori.

Seperti metode-metode lainnya, Gattegno menjadikan pemahamannya terhadap proses pembelajaran bahasa pertama sebagai dasar untuk membuat prinsip-prinsip mengajar bahasa asing bagi orang dewasa. Gattegno menganjurkan agar pembelajar kembali ke cara bayi belajar.
Tujuan umum Silent Way adalah mengajarkan pembelajar bagaimana cara belajar bahasa, dan keterampilan-keterampilan yang dikembangkan melalui proses pembelajaran bahasa asing atau bahasa kedua dapat digunakan untuk mempelajari segala hal lain yang belum diketahui.
Pendeknya menurut saya, mengajar sebuah bahasa dengan silent way rasanya seperti memimpin sebuah tim penyelidik dalam sebuah perjalanan menuju pencarian hal baru. Seperti detektif, para siswa berusaha memecahkan setiap teka-teki yang mereka temukan dan ketika mereka menggabungkannya, mereka menjadi sama yakinnya dengan guru mereka dalam penguasaan bahasa baru tersebut.
Teknik-teknik The Silent Way:
1. Sound-Color Chart 6. Word Chart
2. Teacher’s Silence 7. Fidel Chart
3. Peer Correction 8. Structured Feedback
4. Rods
5. Self-Correction Gestures

DAFTAR PUSTAKA
– Brown, D.H. (2000). Principles of Language Learning and Teaching. New York: Addison Wesley Longman Inc.

– Brown H,Douglas. (1994). Teaching by Principles an Interactive Approach to Language Pedagogy. New Jersey: Prentice Hall Regents.

– Larsen-freeman. (1985). Techniques and Principles in language teaching. Bratleboro :vermont
______. 2010. Model – Model Pembelajaran Bahasa Inggris. Diambil pada tanggal 17 Mei 2012 dari http://luluvikar.wordpress.com/2010/11/10/model-model-pembelajaran-bahasa-inggris.
______. 2011 . Metode Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak – Anak dan Remaja. Diambil pada tanggal 17 Mei 2012 dari http://www.englishfirst.co.id/englishfirst/whyef/methods.aspx.

please leave any comments    www.darmandj89.com

9D01A34D44638690E68A1E69361072C9

TULISAN INI DISUSUN SETELAH MEMBACA BEBERAPA REFERENSI DIATAS SEMOGA BERMANFAAT

Advertisements

40 comments on “Teaching by Principles (Pendekatan pengajaran bahasa inggris)

  1. mantap sob…….. membantu sekali. tugasq ada disini semua. heheheheheheheheh. jazakullah khairan kasiran

  2. hay.. makasih tulisannya.. bermanfaat.. aku mau sekalian tanya tentang audio lingual method. aku lg penelitian ttg teknik transformation drill. aku butuh lbh bnyak referensi. mohon infonya ya.. buku apa aja yg bisa nambah referensi saya. terimakasih..

  3. Saya mengucapkan terimakasih kepada penulis artikel ini, Dengan membaca artikel ini kita jadi tahu 9 metode pembelajaran bahasa inggris. Kalau sekiranya ada lagi metode lain (dari yang 9 tsb) tambahin lagi ya, isi artikelnya. Trims

  4. Good article.. it will be very valuable fir many teachers… sarannya agar metode2 yg disajikan memuat contoh yg sering terjadi fi Indonesia sehingga kita bs tau sebenarnya metode apa yg sedang atau yg telah kita gunakn. Karena terkadang banyak guru yg hanya mengajar sepert yg ada di text book tanpa tau metode apa yg mereka gunakn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s